0
“Mayoritas guru sekarang ini hanya menjadikan siswa pintar secara akademis namun kurang menanamkan kreativitas” sepenggal kalimat itu dilontarkan oleh seorang dosen ketika penulis mengikuti diklat sertifikasi jalur PLPG tahap VII Rayon 112 Universitas Negeri Semarang pada tanggal 14-23 Agustus 2011. Kreativitas merupakan sense of life skill,  sebuah mentalitas yang mendasari kecakapan hidup yang diperlukan seorang anak untuk bertahan di era kompetisi  kerja yang semakin ketat. Pernyataan dosen PLPG tersebut terlontar ketika ujian peer teaching, para guru peserta diklat hanya menampilkan media pembelajaran dari KIT IPA yang tersedia di laboratorium sekolah. Ditinjau dari kemajuan infrastruktur sekolah, hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan KIT IPA semakin lengkap di setiap sekolah. Lantas, apakah dengan semakin lengkapnya KIT IPA, guru tidak perlu membuat/memodifikasi media pembelajaran dari lingkungan misalnya dari barang bekas/sisa ? Setidaknya ada dua alasan, mengapa para guru diharapkan tetap memanfaatkan barang bekas/sisa untuk membuat/memodifikasi KIT IPA. Pertama, menumbuhkan kreativitas siswa. Kedua, mengaplikasikan semboyan 3R (Reuse-Reduce-Recycle) dalam mengelola sampah, khususnya sampah anorganik berbahan plastik yang semakin menggunung dari hari ke hari di tempat sampah. Reuse, berarti menggunakan kembali wadah atau kemasan produk makanan/minuman. Reduce, berarti mengurangi pemakaian barang-barang yang bersifat anorganik, dan Recycle, berarti mengolah kembali barang bekas atau sampah menjadi bentuk yang memiliki daya guna.

Apabila para siswa terbiasa dengan peralatan standar KIT IPA yang tersedia di laboratorium, mental konseptual secara perlahan akan terbentuk dan mematikan cara berpikir kreatif. Dengan kata lain, akan tertanam dalam alam pikiran siswa, jika tidak tersedia peralatan standar KIT IPA maka percobaan/eksperimen IPA tidak dapat berlangsung. Idealnya, disamping menggunakan KIT IPA standar laboratorium, guru semestinya juga mengajak para siswa untuk berpikir kreatif, dengan memancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Antara lain; sambil menunjukkan salah satu KIT IPA, guru melontarkan pertanyaan, “Mungkinkah alat ini dapat kita buat sendiri dari barang-barang bekas/sisa yang ada di sekitar kita?” dan Apakah kalian mempunyai ide agar alat ini menjadi lebih sempurna ?  Misalnya, untuk materi sistem peredaran darah pada manusia, dengan hanya menggunakan media carta atau gambar, tentu saja aliran darah tidak dapat divisualisasikan. Alternatif solusi, guru mengajak para siswa untuk membuat carta peredaran darah dengan media triplek bekas yang dilengkapi dengan rangkaian paralel lampu LED berjalan (running LED). Aliran darah dapat divisualisasikan dengan bantuan running LED, sehingga akan semakin jelas bagi siswa,  dari mana dan ke mana darah mengalir.  Pada materi cara kerja lensa mata ketika memfokuskan bayangan di retina. Biasanya, guru hanya menampilkan torso dan gambar mata, sedangkan proses menebal dan memipihnya lensa mata hanya disampaikan secara verbal. Hanya sampai disitukah penjelasan guru tentang cara kerja lensa mata? Mengacu pada strategi pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning), sebaiknya guru mencoba menggali ide-ide dari para siswa. Diawali diskusi klasikal antara guru dengan siswa, untuk kemudian bersama-sama mencoba merancang alat praktik lensa mata yang dapat dikondisikan menebal dan memipih. Bahan-bahannya diambil dari barang-barang yang sudah tidak terpakai/sisa, misalnya paralon sisa, balon karet, alat suntik tinta printer, sedotan aqua gelas, dan untuk statifnya dipakai gelas aqua. Contoh lain, materi untuk Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) khususnya tentang rekaman jarak tempuh pada pita ticker timer. Ironis, jika guru hanya menjelaskan secara verbal tanpa dilengkapi percobaan ticker timer, dengan alasan tidak tersedianya ticker timer di laboratorium sekolah. Mobil-mobilan remote control yang dilengkapi sedotan plastik berisi kecap adalah alternatif solusi pengganti percobaan ticker timer. Mobil-mobilan remote control dapat dikendalikan  kecepatannya, sehingga dapat dipercepat,  diperlambat, juga dapat diatur agar kecepatannya tetap. Sedotan plastik terlebih dahulu diisi kecap, kemudian dilekatkan pada bagian belakang mobil remote control. Pada saat mobil remote control berjalan akan nampak rekam tetesan kecap di lantai. Satu contoh lagi, untuk materi tata surya, guru dapat mengajak para siswa membuat pohon astronomi yang dibuat dari bola mainan, CD bekas, rangka payung bekas, magnet. Harapannya, konsep fase bulan, rotasi, revolusi, dan efek gravitasi terhadap pasang-surut air laut menjadi lebih jelas diterima siswa. Disamping menanamkan kreativitas, akan tumbuh arti penting mengelola sampah berbasis 3R. Efek jangka panjangnya, mental kreatif yang ter-tanam dalam diri para siswa akan menjadi sense of life skill yang akan menjadi fondasi kehidupannya kelak.

Contoh KIT Lingkungan Berbasis 3R
-mobilan remote control dapat dikendalikan kecepatannya, sehingga dapat dipercepat,  diperlambat, juga dapat diatur agar kecepatannya tetap. Sedotan plastik terlebih dahulu diisi kecap, kemudian dilekatkan pada bagian belakang mobil remote control. Pada saat mobil remote control berjalan akan nampak rekam tetesan kecap di lantai. Satu contoh lagi, untuk materi tata surya, guru dapat mengajak para siswa membuat pohon astronomi yang dibuat dari bola mainan, CD bekas, rangka payung bekas, magnet. Harapannya, konsep fase bulan, rotasi, revolusi, dan efek gravitasi terhadap pasang-surut air laut menjadi lebih jelas diterima siswa. Disamping menanamkan kreativitas, akan tumbuh arti penting mengelola sampah berbasis 3R. Efek jangka panjangnya, mental kreatif yang ter-tanam dalam diri para siswa akan menjadi sense of life skill yang akan menjadi fondasi kehidupannya kelak.

*) Yohanes Eko Nugroho, S.Pd
Guru IPA SMP Negeri 2 Ungaran

Post a comment

 
Top