0
Progres Ujian Nasional (UN) menggelora di seantero Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang umumnya dan di masing-masing institusi sekolah khususnya. Segala upaya telah dipersiapkan, diprogramkan sekaligus dijabarkan pelaksanaannya untuk menunjukkan eksistensi jati diri oleh semua komponen pendidikan, guna menggapai hasil maksimal yang diimpi-impikan.

Argumen pro dan kontra terkait dengan keterlaksanaan UN sudah menjadi hal biasa disetiap tahunnya. Penulis menangkap fenomena itu sebagai bukti kecintaan para pakar sampai kalangan awam tentang pendidikan.

Persoalan itu sudah sewajarnya agar bisa ditangkap oleh pelaku pendidikan agar keterlaksanaan UN semakin sempurna. Yakni untuk pemetaan kemajuan di institusi pendidikan. Guna menentukan langkah kedepannya agar lebih bermakna. Dengan ditandai persamaan persepsi atau kesepakatan untuk menyongsong keterlaksanaan UN. Bahwa dibalik UN ada kepentingan yang lebih besar yaitu proses memantik dan menyatukan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, dalam diklat di Solo (Mulyadi, 2009).

Tibalah saatnya menyatukan semua energi dari berbagai kalangan. Baik dari para pakar pendidikan hingga sampai lapisan akar rumput. Yakni para wali murid (masyarakat) untuk menggelorakan nurani demi suksesnya UN di negeri tercinta Indonesia.

Bermula dari penyadaran pola pikir (mindset) peserta didik. Yakni wajib menghapus perilaku malas dan jenuh untuk dirubah menjadi mindset pekerja keras dan pantang menyerah. Setelah mindset tersebut membumi di lubuk hati sanubari para peserta didik, pastilah orang tua tidak akan tinggal diam untuk memfasilitasi semangat dan dana tentunya. Maka gelora orang tua untuk memantau keterlaksanaan jam tambahan, drilling soal-soal sampai pada pelaksanaan try out UN hingga hitungan ke empat berjalan mulus tiada problem (miss) yang menghadang.

Sampailah pada peran kepala sekolah dalam memberdayakan semua elemen pendidikan untuk merancang program tri sukses UN hingga pada penjabaran dan pelaksanaannya. Luar biasa! Karena energi negatif bisa diberdayakan bahkan dirubah menjadi energi positif yang penuh makna dan jiwa menggelora di sanubari generasi penerus bangsa. Yakni murid, orang tua, masyarakat, guru, dan kepala sekolah dalam arti seluruh komponen pendidikan.

Tidak kalah sentralnya bahwa peran guru mata pelajaran (mapel) UN sangat berpengaruh besar dalam menggerakkan dan memberdayakan peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya. Ingat rasa jenuh dan lelah terkadang menghantui diantara peserta didik. Itu adalah tantangan yang wajib dibumihanguskan. Kecerdasan mendidik dan mengajar menjadi tantangan menarik untuk selalu direnungkan dan dipikirkan solusinya. Itu pasti dan tidak bisa ditawar-tawar.

Begitu juga orang tua (wali murid), masyarakat, guru, kepala sekolah, pengawas, kabid tendik sampai pada kepala Dinas Pendidikan bagai gayung bersambut sepakat untuk saling melengkapi dan mengisi demi sukses UN. Muaranya demi kemajuan institusi pendidikan di Kabupaten Semarang.

Upaya mulia tersebut terangkum pada majalah MAHARDIKA Kabupaten Semarang edisi perdana yang launching pada bulan Mei 2014. Adapun judul laporan utama membahas tentang: Sukses UN, Sukses “Kecil” Pendidikan? yakni sukses persiapan, sukses pelaksanaan dan sukses hasil. Komitmen kedisiplinan mulai tergerak dari masing-masing individu untuk menggapai potensi pribadi secara maksimal.

Bahwa bobot nilai 0,01 adalah sesuatu yang kecil, namun wajib digelorakan dan diperjuangkan, untuk menjadi sesuatu yang besar. Hal tersebut akan terasa betapa besar bobotnya mana kala dipergunakan untuk memasuki dunia pendidikan pada jenjang di atasnya.

Laporan utama berikutnya adalah “Menggapai Sukses UN,” di dalamnya membahas strategi persiapan fisik dan non fisik. Penggambaran yang muncul perilaku gembira dan enjoy mulai dari kepala sekolah, guru, dan terlebih peserta didik hingga wali murid.

Laporan utama lanjutnya dalam renungan berjudul “Gaung Ujian Nasional,” yang di dalamnya membahas tuntas geliat UN, yakni membidik sisi positifnya. UN memicu pembiasaan-pembiasaan positif dalam berperilaku keseharian. Baik dari upaya pemahaman materi, jiwa kereligiusan, dan akhlak mulia. Akhirnya Tri Sukses UN wajib digelorakan dari personal-personal pelaku pendidikan tanpa terkecuali.  (Roto ).

Post a comment

 
Top