0
Terkadang aku tak mengerti apa arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya. Kehidupan keluargaku yang serba pas – pasan, sering menyelipkan berbagai tanya. Apakah semua anak seperti aku? Apakah semua anak bernasib sama dengan aku? Tapi yang kulihat di luar sana banyak ragam kehidupan. Bapakku yang hanya seorang petani yang tak setiap hari mendapatkan uang dari pekerjaannya, dan ibu ku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi mereka mempunyai semangat tinggi untuk cita – cita  ketiga anaknya. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, dan kakak ku semuanya laki – laki.
Sekarang aku duduk di kelas 3 SMP. Sedangkan kakak pertama ku sudah lulus SMA, dan baru beberapa bulan yang lalu mulai bekerja. Tentu ini sedikit meringankan bagi orang tua ku, karena tidak lagi menanggung biaya sekolah kakak pertama ku. Sedangkan kakak kedua ku baru kelas 2 SMA. Tetapi itu tak merubah kebiasaan ibuku di pagi hari, membangunkan kami dan menyiapkan sarapan.

“Dara, Dedy! Ayo bangun! Sudah subuh, sholat dulu.” kata ibu sambil berteriak dengan merdunya di telingaku
“Iya!” dengan suara malas aku pun menjawabnya.
“Sebelum ambil wudhu, rapikan dulu kamarnya.”
Tanpa menjawab aku pun merapaikan tempat tidur ku. Setelah selesai sholat, aku pun bergegas mandi agar tidak kesiangan untuk berangkat sekolah. Tidak lupa ibu ku selalu menyiapkan sarapan untuk  aku dan kakak ku sebelum berangkat sekolah, walaupun dengan lauk yang seadannya. Tapi kami tetap bersyukur. Tak lama kemudian aku pun selesai mandi dan berganti baju. Jam mulai menunjukkan pukul 06.15 WIB. Aku pun segera sarapan lalu berpamitan kepada ibu ku untuk berangkat sekolah, terkadang aku tak sempat pamit kepada bapak ku, karena pagi – pagi sekali sudah berangkat ke sawah.
“Buk, aku berangkat dulu ya.” Kataku sambil berjabat tangan.
“Hati – hati ya di jalan, belajar yang rajin.” Jawab ibu ku dengan tersenyum.
Tiap pagi aku harus berangkat lebih awal agar tidak tertinggal oleh angkutan umum yang sering aku naiki untuk berangkat sekolah. Karena jarak rumah ku dengan sekolah cukup jauh. Keluarga ku hanya mempunyai satu motor tua itu pun dibawa kakak ku yang bekerja, dan tak setiap hari ia pulang ke rumah.

Jika pekerjaan dirumah sudah selesai ibu ku membantu bapak disawah supaya pekerjaannya lebih ringan. Sebagai petani sayuran tiap pagi dan sore harus menyirami tanamannya agar tumbuh subur dan panen tepat waktu. Sungguh, aku bersyukur punya mereka walau kadang ada juga sebersit rasa dan keinginan untuk bisa seperti teman – teman lain, serba kecukupan kebutuhannya. Tapi aku sadar dengan keadaan. Suatu saat pasti semua akan terwujud dengan usaha dan semangat untuk  maju dengan  jalan belajar rajin serta tekun, supaya cita – cita yang aku inginkan terwujud.

“Aauuuwww...sakit...” sebuah cubitan keras terasa di pundakku, ternyata angkot yang kunaiki sudah sampai depan sekolah.
“Sadar  kelleeuuss...betah amat nglamunnya, mentang – mentang nglamun gratis. Tapi bayar dulu angkotnya ra!” teriak Dini sahabat ku sambil tertawa.
“Maaf...maaf.”  kubayar angkot dan kutarik tangan dini sambil berlari ke pintu gerbang sekolah, tentu saja dengan iringan tawa teman – teman ku.
“Kenapa Dara? tadi nglamun kok sambil senyum  maniiiiiss banget?” tanya Dini.
“Mau tahu aja atau tahu banget? Tapi jawabnya nggak gratis lho Din, segelas es
dawet depan sekolah ya?” jawabku.
“Matere banget sih kamu ra. Oke tapi nanti cerita ya!” pinta dini dengan berbisik karena ada bu guru jalan di depan kita.
“Iya, yuk masuk  Din. Belnya udah bunyi.” sambil ku gandeng tangannya.
Pukul 07.00 WIB bel sekolah berbunyi,  semua siap memulai pelajaran seperti biasa, sebelum pelajaran selalu diawali dengan doa bersama, sebagai permohonan pada Allah SWT agar semua berjalan lancar dan fikiran pun jernih dalam menangkap semua mata pelajaran sehingga dapat membawa berkah dan manfaat untuk bekal hidup kita kelak.
Memandang kedepan kelas aku tersenyum , karena ibu guruku cantik dan  juga sangat ramah dan perhatian. Ibu Indriyani namanya, biasa di panggil bu Indri. Beliau adalah seorang guru matematika yang bijak dan sabar dan kebetulan bu Indri juga wali kelas ku. Cara menyampaikan pelajaran pun sangat telaten dan teliti, sehingga tidak membosankan dan mudah di mengerti. Walaupun nilai matematika ku tak pernah lebih dari 7, aaaahh tetapi itu sudah hebat kata ibuku.
Tak terasa 2 jam pelajaran bu Indri telah usai, tetapi bu Indri tidak keluar kelas. Kami pun bertanya – tanya mengapa ibu Indri tidak keluar kelas? Dengan tersenyum bu Indri kembali duduk di kursinya, dan menjelaskan mengapa beliau masih didalam kelas.
“Hari ini, IPA jam kosong di karenakan ibu Titik ada seminar di Semarang, jadi untuk mengisi kekosongan pelajaran maka pergunakan untuk berdiskusi tentang Study tour yang akan diadakan pada akhir Buu...” perkataan bu Indri yang terpotong oleh suara teriakan keras anak – anak satu kelas karena kegirangan.
“Sudah – sudah! Tenang semuanya! Ibu akan lanjutkan. Study tour ini akan diadakan pada akhir bulan depan,  jadi untuk siswa yang belum melunasi pembayaran, maka segera di lunasi ya.”  Sambil tersenyum bu Indri memberi tau kepada kami.
“Baik bu,” jawab teman – teman satu kelas.
Aku pun mulai berpikir, apakah besok aku bisa mengikuti Study tour? Sedangkan uang tabungan ku baru terkumpul 200 ribu dan aku masih harus membayar 500 ribu lagi. Untuk minta orang tua ku pun aku tak tega, tetapi pelaksanaan study tour  hanya tinggal satu bulan lagi. Sedangkan studi tour ini memang wajib di ikuti semua siswa, aku harus mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan ibu dan bapak.
Tak lama kemudian bel berbunyi tanda berakhirnya pelajaran hari ini, aku pun merapikan buku serta peralatan tulis lainnya yang sangat berantakan di atas meja.
“Bel sudah berbunyi anak – anak semuannya boleh dirapikan, setelah itu berdoa menurut agama dan kepercayaan masing – masing” ujar bu Indri.
Setelah berdoa aku pun keluar kelas. Sepanjang jalan aku pun memikirkan perkataan bu Indri tadi, supaya cepat melunasi biaya study tour bulan depan.yang harus dilunasi dalam minggu ini. Aku benar – benar bingung bagaimana caranya agar aku bisa membicarakan ini tanpa menyinggung perasaan orang tua ku.
“Ra! Kamu kenapa sih kok dari tadi diem aja? Kamu lagi mikirin apa?” tanya Dini dalam angkutan umum yang duduk di sebelah ku.
“Hehh! Kamu mikirin apa sih?” dengan mengagetkan aku Dini bertanya lagi.
“Eh iya, kenapa Din? Maaf aku enggak dingar. Tadi kamu ngomong apa?” jawab ku sambil terkejut.
Setelah beberapa lama aku di angkutan, akhirnya sampai di rumah. Ternyata bapak dan ibuku sedang asyik mengikat sayuran yang baru di potong dari sawah. Mereka berdua bekerja sambil ngobrol dan bercanda, memang mereka selalu seperti itu. Jarang aku dengar mereka bertengkar, menurut ibuku hidup harus di jalani dengan sabar, nrimo, tawakal dan terus berusaha serta doa yang tak putus. Karena Allah tak pernah salah membagi rizki untuk umat Nya, jika rizki itu belum datang pada kita berarti memang kita belum benar – benar membutuhkan. Kadang pendapat ibu itu pengen sekali aku bantah, tapi memang benar adanya.

“Assalamualaikuuuuuuum...asik banget Buk,” sapaku sambil membuka pintu dan menjabat tangan bapak ibuku.
“Waalaikumsalam Dara, pulang sekolah kok malah bengong di depan pintu dari tadi, nggak masuk – masuk, kenapa? Jawab bapakku.
“Kagum sama ibu dan bapak, hehehehe tiap hari bercanda terus enggak ada habisnya.” tanya ku sambil tertawa.
“Hidup sudah susah jangan di buat tambah susah, cepet tua, keleeeeess.” balas ibu ku sambil tertawa juga.
Dengan pelan – pelan aku pun mulai menyampaikan apa yang menjadi pesan bu Indri tadi waktu di kelas.
“Bu, pak, bulan depan study tournya gimana, Dara jadi ikut nggak.? tanya ku dengan hati – hati.
“Insyaallah jadi Dara, kan itu untuk karya tulis sebagai syarat kenaikan kelas kamu. Nanti kita usahakan, tapi sabar ya. Udah sana ganti baju, sholat terus makan,” Kata ibuku dengan senyum.
“Ya, Bu, makasih ya.” aku jawab sambil masuk kamar.
Yaaa, ibuku memang tersenyum, tapi aku tahu pasti ibuku sedang berpikir keras untuk mendapatkan uang untuk melunasi biaya study tourku. Sedangkan kemarin Mas Dedy kakakku juga minta uang untuk SPP dan uang buku paket yang harus dilunasi, sebagai syarat mendapatkan kartu test. Sebenarnya aku tak tega membicarakan ini tapi harus bagaimana lagi, waktu pelaksanaan study tour hanya tinggal satu bulan lagi sedangkan uangku baru terkumpul sedikit. Terlintas di benakku sempat aku ingin untuk memutuskan tidak mengikuti study tour ini, tapi itu tak mungkin karena ini memang wajib di ikuti oleh semua siswa.
Pembicaraan ku bersama ibuk bapak sudah dua hari berlalu, tapi mereka masih diam saja, aku bingung tapi biarlah dulu, siapa tahu mereka akan mendapatkan solusinya. Karena disaat yang sama  juga harus memikirkan kebutuhan kakakku, aku yakin pasti ada jalan keluarnya. Sebetulnya aku ingin keluar kamar untuk mandi, tapi di dapur aku dengar bapak dan ibu tengah serius membicarakan aku dan mas Dedi.
“Pak, sebaiknya gimana ya dengan masalah pembayaran anak – anak kita?” kata ibuku.
“Kapan hari terakhir pembayaran mereka ya? Sebetulnya bapak ada sedikit simpanan tapi untuk persediaan beli pupuk dan benih jagung bu, itupun Cuma ada 350 ribu masih kurang banyak ya bu?” jawab bapak dengan menerawang.


“Uang study tour Dara baru dibayar 200 ribu masih kurang 500 ribu lagi, sedangkan Dedi harus bayar buku dan tesnya juga SPP bulan ini totalnya 650 ribu pak masih kurang 700 ribu, apa mungkin kita pinjam dulu, tapi pada siapa ya kalau segitu banyaknya, sedangkan waktunya tinggal dua hari lagi.” panjang lebar jawaban ibu dan tanpa senyum sedikit pun.
“Andai tidak bersamaan waktu pembayaran mereka berdua, tentu tak seberat ini masalahnya, seandainya cabe kita sudah bisa dipetik sekarang ya bu, bisa untuk tambah – tambah tapi tidak mungkin karena masih kecil – kecil kok bu.” kata bapak.
“Atau mungkin sayur sawi kita petik lebih awal gimana pak?” tanya ibu dengan hati – hati.
“Tapi masih terlalu kecil bu dan itu pun paling banyak  hanya ada seratus ikat, sedangkan harga sayuran sekarang lagi turun bu,” terang bapak.
“Seratus ikat berarti dapat tambahan 100 ribu lumayan kan pak, atau mungkin kita bisa pinjam dulu sama Dani siapa tahu Dani  masih punya simpanan,” usul ibu pada bapak.
“Aduuuh bu, jangan ya, Dani kan baru saja beli motor, walaupun bekas tentu tabungannya sudah habis dan tentu saja dia belum gajian, sebaiknya kita jangan mengeluhkan kebutuhan kita pada anak.” dengan lembut bapak menasehati ibu.
“Atau gini aja pak, kita pinjam ke koperasi pertanian bisa nggak ya?” kembali ibu menyampaikan sebuah usulan lagi.
“Nggak bisa bu, kita masih punya pinjaman. Bu, sudah sore kita sholat asyar dulu setelah itu kita ke sawah, siapa tahu dengan bermunajat kepada Allah kita mendapat petunjuk Nya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik,” ajak bapak.
“Ya pak, dan siapa tahu sambil kerja di sawah nanti kita bisa berpikir lebih jernih untuk dapat penyelesaian masalah ini, ayo pak ambil wudhu dulu.” jawab ibu.
Pagi ini di kelas aku tak punya semangat sama sekali dalam menerima pelajaran. Aku was – was,karena nanti pasti bu Indri akan menanyakan tentang pembayaran biaya studi tour,karena batas waktu pembayaran tinggal dua hari lagi. Bu Indri masuk kelas sambil menyapa siswa dengan ramah.
“Assalamualaikum, selamat siang anak2” kata bu Indri dengan senyum mengembang.
“Waalaikumsalam, selamat siang juga bu” serentak sekali kami menjawab.
Karena waktu kita hanya 1 jam maka kita gunakan untuk mediskusi tentang study tuor, bagaimana? Semua sudah beres pembayaran biayanya? Kalaupun belum masih ada hari esuk, satu hari lagi.” kata bu Indri.


“Beluuuumm bu,besuk” sahut beberapa temanku.
“Baik anak anak,besuk terakhir ya, agar pada saat pelaksanaan nanti semua sudah beres dan lancar,” jelas bu Indri lembut.
Ternyata bukan cuma aku yang belum melunasi pembayarannya, aku jadi agak tenang, masih ada beberapa teman lagi.
Di rumah sepi, kemana bapak dan ibu. Apa mungkin mereka masih di sawah, biasanya jam segini mereka sudah pulang. Lebih baik aku tunggu sambil istirahat dulu sambil mengerjakan PR. Aku ambil buku dan kebelakang rumah untuk belajar, ternyata bapak ibuku juga ada disana. Kebun belakang yang teduh memang menjadi tempat kami sekeluarga untuk istirahat dan berbincang – bincang. Ohhh, ternyata ibu dan bapak sedang menjemur padi.
“ Bu, pak,aku kira bapak dan ibu masih di sawah.” sapaku.
“Lho, kok sudah pulang baru jam sepuluh,” jawab bapak
“Kan ini hari jumat, bapak lupa ya? Memangnya bapak nggak jumatan nanti?” tanya ku balik.
“Oh ya ya, hampir lupa. Ya sudah bapak mau siap siap dulu, untung tadi sudah mandi sepulang dari sawah.” Bapak menjawab sambil tersenyum.
Aku dekati ibuku yang dari tadi melihatku dengan senyum yang seperti di paksakan. Hati – hati sekali aku bertanya.
“Bu, bagaimana ya, tadi bu Indri tanya tentang pembayarannya. Tapi bukan cuma aku kok bu yang belum lunas, masih ada beberapa teman juga.” Setengah berbisik aku katakan ini pada ibuku.
Raut muka ibuku tak berubah, tetap menatapku dengan senyum kecil. Aku tak bisa menebak apa yang dipikirkannya, tapi jujur aku sangat khawatir dan was – was, jangan - jangan besuk belum juga ibu mendapatkan uang. Itu berarti aku tidak bisa mengikuti study tour dan aku tidak bisa membuat karya tulis yang digunakan sebagai persyaratan kenaikan kelas juga. Sekujur badanku terasa dingin menunggu jawaban ibuk, tak berani aku tegakkan kepala. Diamnya ibuku makin membuatku panik.
“Dara, kenapa? Jangan khawatir, besuk pagi kamu bisa lunasi pembayarannya kok. Lihat itu, padi yang ibu jemur ini mau ibu jual di pasar sore nanti.” terang ibu sambil memegang pundakku.
“Tapi bu, panen padi kita kemarin kan sedikit sekali karena diserang hama tikus, kata ibu nggak cukup untuk kebutuhan makan kita sampai waktu panen lagi.” Balasku.
“Itu bisa dipikirkan lagi nanti, yang penting sekarang bisa lunas dulu pembayaran kamu dan mas Dedi, karena hari senin mas Dedi test semester. Lagian ibu masih sisakan sedikit, cukup untuk sebulan ke depan sampai panen cabenya, naaah kalau sudah panen cabe kita bisa beli beras di pasar untuk kebutuhan sehari hari.” panjang lebar ibuku berkata dengan lembut.
“Tapi bu, atau besuk aku bilang bu Indri saja, untuk memberi kelonggaran waktu pembayaran sampai kita panen cabe.”
“Jangan, bayar saja besuk. Mungkin memang ini jalan rezki kalian, jangan terlalu dipikirkan karena kebutuhan keluarga adalah tanggung jawab orang tua bukan tugas kalian untuk memikirkan. Yang terpenting kalian belajar yang rajin serta tekun, itu sudah cukup membantu bapak dan ibu.” jawab ibuku dengan bijak.
“Se.......” belum jadi aku menjawab kata – kata ibuku malah terdengar suara salam dari depan rumah.
“Assalamualaikum,” terdengar agak keras suara salam dari pintu depan.
“Wa’alaikumsalaaam.” jawab bapak dari kamar.
“Oh  pak Hadi, silahkan masuk. Mari pak silahkan duduk kok tumben siang –  siang pak.” kata ibuku.
“Lagi santai bu? Maaf menganggu ya,” jawab pak hadi.
“Nggak kok pak, lagi njemur padi di belakang atau kita duduk di belakang saja ya,” ajak ibuku.
“Terimakasih bu, memang kebetulan keperluan saya juga ke belakang rumah kok. Kalau diperbolehkan saya mau melihat cengkehnya, apa sudah tua? Mau saya tebas lagi bu, kebetulan harga cengkeh lagi mahal sekarang.” jawabawab pak Hadi.
“Oh silahkan pak, tapi belum tua sepertinya. Mari di lihat dulu.” ajak ibuku.
Kulihat wajah ibu berbinar seketika, sambil memandangku. Tapi tak ku tahu maksud pandangan ibu. Sampai di belakang rumah pak Hadi melihat pohon cengkeh satu persatu dan seperti sambil berpikir, kemudian memanjat satu pohon dan turun kembali.
“Pak, bu, cengkehnya mau dipetik sendiri atau mau ditebaskan?” tanya pak Hadi.
“Maaf Pak, kami memang berniat menebaskan tapi kalau sudah tua. Ini masih sangat muda jadi kami belum berani, takut belum laku Pak hadi.” jawab bapak.
“Begini pak, kalau memang boleh saya akan membelinya sekarang, karena kalau tidak membeli yang muda saya tidak dapat dagangan. Sekarang harga cengkeh agak mahal jadi ya semua tengkulak berebut pak. Bagaimana pak, boleh?” desak pak Hadi pada bapak.
“Boleh pak, kalau memang pak Hadi berminat. Tapi saya agak khawatir kalau nanti hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan pak Hadi sekarang.” kata bapak.
“Ah, itu resiko tengkulak pak. Untung rugi hal biasa, kalau begitu kita sepakati harga saja ya. Karena ini sudah siang dan hari jumat. Bagaimana kalau harga tahun lalu saya naikkan 300 ribu,” tawar pak Hadi.
“Silahkan pak, terimakasih.” seperti paduan suara jawaban bapak dan ibuku, wajah mereka seperti terlepas dari beban yang berat.
“Baiklah pak, ini uangnya saya pamit dulu. Bulan depan saya kesini lagi untuk memetik cengkehnya dan terimakasih ya.” pamit pak Hadi sambil menjabat tangan Bapak.
“Sama – sama pak, semoga menjadikan berkah untuk kita semua,” jawab bapak sambil berjalan di belakang pak Hadi untuk berangkat sholat jumat ke masjid.
“Amin...amin..”  sahutku dan ibu bersamaan.
“Nah Dara, masih ingat kata ibu dulu kan. Allah tak pernah salah membagi rizki dan tepat waktunya tanpa pernah kita sangka jalannya.” kata ibu dengan penuh syukur.
“Alhamdulillah, Bu.” aku jawab kata – kata ibuku sambil tertunduk karena haru.
  Ibu duduk di sebelahku dan memelukku, walaupun tanpa berkata sepatah pun aku tahu apa yang ada di pikiran ibuku. Pasti ibu merasa lega karena kedatangan pak Hadi yang dapat menyelesaikan masalah keuangan keluargaku tanpa harus minta bantuan pada orang lain. Mungkin ini jawaban Allah atas doa doa orang tua ku yang tak pernah mengeluh dalam setiap kekurangannya. Lewat pak Hadi rizki ini datang, cengkeh yang belum waktunya di jual ternyata dibelinya. Dengan harga yang sesuai, dengan begini ibu tak perlu lagi menjual padi untuk melunasi pembayaraanku dan mas Dedi, bahkan mungkin masih ada sisanya untuk keperluan lain.

Aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka yang selalu mengajarkan pada anak anaknya untuk selalu sabar dan jangan melupakan Allah dalam setiap permasalahan yang di hadapi. Dalam hidupnya yang pas – pasan sebagai petani keluhan tak pernah terdengar dari mulut mereka, ingin aku seperti mereka yang selalu sabar dalam menghadapi berbagai cobaan.Kuajak ibuku untuk masuk ke rumah dan sholat dhuhur, sekaligus mengucap syukur ke haribaan-Nya. Lega sudah  pikiranku lepas sudah masalahku.Malam ini aku belajar dengan tenang dan bisa konsentrasi, esok haripun tentu aku berangkat sekolah dengan semangat tanpa dihinggapi rasa malu lagi.

Oleh :Afri LinggaAnugrah Dara
Siswa SMP N 5 Ambarawa

Post a comment

 
Top